Jumat, 28 Maret 2014


Ada juga kelas yang mengharuskan mesin motor tidak diubah karakter aslinya. Mereka sebut 'paking selembaran' yang artinya stroke standar. Dengan paking kertas  selembar ini, mekanik sulit untuk menambah panjang langkah. Kelas ini menurut Ntong cukup digemari, karena yang diadu adalah kehebatan mekanik. Di situ tidak terbatas merek dan tipe.

Harusnya pakai braket time yang resmiMenurut sesepuh tiga  generasi, Toddy Andries, sistem bali ini mirip dengan braket time. Katanya, kelas akan terbagai sesuai kemampuan motor mencetak waktu di  penyisihan atau QTT.  “Braket time sudah diterapkan di drag race mobil. Juga di daerah baru lalu saya pakai, ternyata disukai. Karena akan terbagi dengan sendirinya motor kencang adu duit dan adu otak. Misalnya waktu yang bermain 7 detik koma sekian akan jadi satu kelompok, tidak peduli merek dan tipe. Tetapi, bila peraturan menuntut sport ketemu sport bisa juga diadakan dengan braket time,” jelas Om Toddy  saat sowan ke markas maniakmotor.com bersama teman-teman tim dragbike dan promotor.

Itu yang benar Om. Tapi, tetap saja ada yang tidak boleh dibawa ke drag bike dari bali. Itu tuh, coba lihat foto yang minim peranti keamanan macam helm dan lainnya. Jokinya cuek bebek tanpa  alas kaki alias nyeker. Nah, tinggal pintar-pintar perumus aturan drag bike resmi  mencaplok aturan yang bikin seimbang, agar peserta tetap antusias. Mereka pasti akan ngumpul di yang resmi, jika kelas versi bali terwadahi. Berbeda dengan drag bike saat ini yang kebanyakan starter hanya pelengkap dan datang hanya menyetor dana pendaftaran pada promotor. Penyumbang maksudnya.

Ngomong-ngomong Mio vs Jupiter Z itu siapa yang menang? Ou.. partai  ini diadu dua kali dan hasilnya imbang. Sedang Mio vs Mio dimenangi yang jokinya pedrag naisional itu. Taruhannya di atas coban tiaw setiap partai.

Sumber : ManiakMotor.com


Yang Belum Gabung Ke Grup Facebook Silahkan Join I B L C

 TARUHAN BALAP LIAR (BALI) JUPITER Z VS MIO, HARUSNYA DITIRU REGULASI DRAG BIKE..!



Ada dua partai taruhan balap liar (bali) antara Jupiter Z vs Mio dan Mio vs Mio. Tapi yang lebih menarik Jupiter vs Mio, Kamis, 17 Januari 2013. Bukannya portal ini membesarkan bali, tapi itu bisa jadi cermin regulasi drag bike ke depan yang fair. Taruhan yang harusnya diadakan dini hari Kamis, tapi lantaran hujan lebat di suatu kawasan Tangsel, Banten, mulur sampai jam 8 pagi. Lihat saja di foto, aspal untuk taruhan masih basah, namun tetap gas pool rem blong. Taaaancap...!


Jupiter Z vs Mio, imbang dua kali tarikan, Kamis, 17 Januari 2013Dari speksifikasi Mio dan Jupiter Z, keduanya tak bakalan ketemu di drag bike resmi yang penuh aturan. Matik ya matik, bebek ya kwek, maju ke FFA boro-boro punya dana untuk melawan teknologi uang. “Saya sudah mewanti jauh-jauh hari soal
aturan yang lama-lama main dana. Aturan saat ini makin sulit diikuti motor yang modalnya kecil. Akhirnya mereka malah ke bali,” kata Rio Teguh, pemilik tim drag bike  Anker Heriot. Rio juga barusan dinobatkan sebagai Ketua Pengprov IMI Jawa Barat.

Aturan bali relevan seperti ketemunya Mio dan Jupiter Z yang beda reduksi. Mio otomatik dan Jupiter Z reduksinya bertingkat. "Aturannya cuma satu, kedua belah pihak setuju mempertemukannya. Tidak ada regulasi lain, karena masing-masing saling tahu isi motor. Ya, seimbang. Kira-kira kalau di kelas matik drag bike, Mio ini ikut 155 cc,” tunjuk salah satu joki drag nasional yang dapat dua order dalam dua partai itu. Sayang ogah disebut namanya karena sudah ngetop. Tebak saja dia yang manaaa, ada fotonya kok, maniakmotor.com, getuu loh.

Tatakrama di bali sederhana yang penting  imbang.  Apalagi, beberapa peserta bali sering pula ikut drag bike, namun kesulitan melawan papan atas. Dari hasil catatan drag itu lah bisa jadi ‘jodoh’ di lintas haram. Dengan catatan seimbang di drag, spek ketemunya nggak beda-beda jauh walau beda tipe. Sebab ada aturan tidak tertulis  di liaran mengolompokkan taruhan.


Om Toddy pernah bikin sistem braket time di daerah, baru-baru iniMisalnya, karburator ‘cap’ racing  'besar', harus ketemu karbu yang sama walau motor beda tipe dan merek. Kategori besar itu dimulai dari seri PJ (Keihin), TM (Mikuni), dan FCR (karburator SE). “Karbu 'kecil' ialah seri Keihin PE, karena kemampuanya beda.  Malah ada  karbu standar bawaan motor hanya  mengandalkan keahlian mekanik, bukan ahli belanja part racing," buka Ntong Doy, selaku juru korek dari bengkel NDRT di bilangan Jakarta.

Ntong juga menurunkan Mio-nya melawan Mio pada Kamis pagi yang dingin dan siangnya Jakarta ribut dengan banjir. Peraturan  Mio vs Mio ini menganut seher 58 mm dan klep bebas. Maksudnya, piston hanya dibatasi diameter 58 mm yang tidak peduli langkah piston dan spare part lain. Buktinya, saat dilepas keduanya seimbang dalam jarak 500 meter.

ManiakMotor – Langkah toraknya 86 mm atau menjauh 30 mm dari standar. Diameter piston 66 mm,  melar 16 mm dari aslinya. Jelas letupan ruang bakar tiga kali lebih besar dari yang dijual tunai dan  kredit di dealer. Bahan bakar yang masuk ke ruang silinder  jadi 294 cc,  dalam rumus kapasitas dibulatkan jadi 300 cc. Kan sebelumnya cuma 110 cc bro.  
 Eh, kalau hanya modal itu, semua  Yamaha Mio bisa dibore-up jadi 300 cc dan juga ikut dragbike matik tune-up 300 cc.  Tetapi, yang ini langganan juara. “Mesin aslinya dibeli dari Thailand, tapi direpair sendiri di bengkel. Beberapa komponen disempurnakan kinerjanya,” buka Utomo sang owner Tomo Speed Shop (TSS) yang Mio-nya, seperti langganan melibas   201 meter dngan 7 detik koma tipis. Hayo dapat 6 detik koma gede dong!
Simpul ilmu Thailand menaikkan kapasitas itu,  lebih mengutamakan torak, ketimbang diameter sumur silinder. Torsi yang dikejar dalam menggapai 201 meter, bukan putaran yang tinggi. Dalam ilmu mesin balap disebut long stroke, yang ini lebih long lagi. Dalam Ilmu analisa kira-kira, cara itu lebih aman. Andai yang dipilih overbore  (diameter silinder lebih besar), jeroan lain nggak kuku.
Overbore butuh rpm tinggi untuk mendapatkan torsi. Itu motor rontok duluan akibat kelebihan putaran, baru semburkan tenaga. Trus, selangkangan jokinya geli-geli basah duluan akibat getaran yang tinggi. Dengan long stroke, komponen lebih aman dan tenaga cepat didapat, itu  maksudnya durability, bro.
Makanya dipilih langkah torak 86 tadi yang bukan maksudnya siaaaap..! 86 di rojer, ganti? “Setang pistonnya dari 2-tak, mereknya K125. Saya tidak tahu dari motor apa. Tapi kalau diukur dari TMA ke TMB, ya 86 mm itu. Bloknya saja diganjal 3,8 cm,” jelas Utomo.
Setang piston ini jelas saja butuh modifikasi kelas berat untuk menancapkan pada kruk-as Mio. Kalau kelas ringan sudah jauh-jauh hari rontok. Belum lagi urusan pin piston dan sebagainya. Kalau ditulis di sini, keburu ngantuk sampeyan membacanya. Lagian mekanik Thailand yang bikin.
Pendeknya, pembesaran ruang bakar mengutamakan langkah. Kata orang pintar, volumetriknya dapat dengan komposisi begitu.  Ya, nggak dapat semuanya sih. Sebab, ideal volumetrik adalah 80 persen, itu sudah bagus. Berarti 240 cc bahan bakar yang masuk ke ruang silinder dituntaskan piston LHK Forged yang 66 mm tadi.  Belum lagi piston yang super ringan ini. Yang ini nanti edisi lain saja ditulis. Walah, ini bukan tabloid pak, tapi online. Iya, lupa...
MASUK-KELUAR
Melayani volumetrik kapasitas tadi, dipilih karbu Keihin PE28. Namun, pelayanan bahan bakarnya dianggap masih kurang, makanya venturinya direamer lagi jadi 30 mm. Dua jokinya, yakni   Ayip Rosidi dan Saiful Cibef punya setingan sama. “Pilot-jet 45 dan main-jet 135,” jelas kedua pengebut trek lurus sembari mengangkat Mio seperti di foto ini.
Penguapan bahan bakar menganut model terompet seperti diajarkan guru korek mengorek Graham Bell.  Dimuali dari diameter karbu yang 30 mm terus membesar sampai diameter payung klep masuk (in) yang 34 mm. Terompetnya dibalik lagi dari pembuangan yang diawali diameter payung klep buang (ex) yang 30 mm.
Angka diameter klep buang itu sama dengan venturi karbu.  Pasti terus membesar dari lubang buang, leher knalpot, perut dan mengecil lagi di ujung kenalpot buatan Thailand. Iya kan, masuk logika kan, kan...  Berarti terompetnya bolak-balik. Sahut-sahutan memberi power, preeet... kan begitu bunyi terompet. Wenak aza, bunyinya nggak begitu, bro. Tapi, blar, blaaarr... 
Kedua klep ini diperintah kem atau noken-as yang katanya 2720. Ruarr biasa, itu kem sangat singkat menutupnya. Berarti, membukanya laaaaaama sekali yang memberi peluang bahan bakar 300 cc masuk ke ruang bakar. “Asli itu angkanya, sudah diukur dan cek ulang pada ahli-ahli kem di Indonesia,” jelas Utomo dengan mimik yang sangat serius. 
SERBA RINGAN
Matik ini serba ringkas. Rangkanya tak lebih dari 6 kg berat totalnya. Konstruksi sambungannya sangat rapi. Warna pipa rangkanya juga bikin nafsu. Ya, mungkin saja bukan titanium murni. Asal tahu saja, di pasar dunia soal logam, titanium murni harga per gramnya di atas Rp 700 ribu, apalagi sudah bentuk jadi rangka?
Makanya bahan ini sekarang mulai dikurangi di MotoGP. Bisa jadi, rangka ini ada campuran titanium. Sebab, aluminium nomor 7 juga hampir sama ringan cuma beda kualitas. Toh, matik Mio ini penempatan sparepartnya efisien. Lihat saja stabilizer dan pijakan kakinya, terpasang ringkas namun fungsional, termasuk juga tangki bahan bakar.
Umumnya kuda besi karapan, dibutuhkan suspensi yang rigid (kaku). Untung dua sokbreker depan dan belakang mampu diseting Tomo Speed dengan bagus. Sokbrekernya juga mendukung. Depan pakai teleskopik Honda Sonic dan belakang pakai YSS produk TDR atau Mitra 2000. Itu klik YSS pengatur bound dan rebound atau kompresi memanjang dan memendek, minta yang paling tinggi alias keras sesuai rigidnya karapan motor.
Mantap ya. Adit
MODIFIKASI LAIN:

Modifikasi Honda CB150R Street Fire (Honda Teralis)



Data modifikasi          
LSA (lobe separation angle) : 1010        
Pengapian  : Yamaha Fino        
Busi  : NGK        
Kompresi : 1:13,4        
Klep : SPS        
Kenalpot : Tomeco        
Per CVT : LHK        
Roler : LHK 8 gram        
Belt  : Stadar Mio        
Sokbreker depan : Honda Sonic        
Sokbreker belakang : YSS         
Selongsong gas : Yamaha TZM        
Pelek depan : TDR 1.20-17        
Pelek belakang : TDR 1.60-17        
Ban depan : Camel 45/90-17        
Ban belakang : IRC Eat My Dust 60/80-17      
Workshop TSS  : Tomo Speed Shop,  Jl. Bendungan jago Raya
No. 6-7, Kemayoran, Jakpus tlp 021-93527958
ManiakMotor – DOHC (double over heat camshaft) pada Suzuki Satria F150 yang lebih tenar FU kelebihannya mudah untuk dapat efisiensi volumetrik. Dengan dua noken-as atau camshaftnya, ada empat lubang yang disumpal katup klep pada  kepala silinder.  Dua masuk dan dua buang. Sirkulasi bahan bakar isap dan dan lepas mendekati kapasitas, itu disebut efesiensi volumetrik, brosist. Jarang yang mendekati 80 persen efesiensinya. Salah satu penentunya inlet dan outlet, iya! Tapi masih banyak yang lain seperti pengapian, karbu dan setting seperti Satria FU Solo yang mengagetkan di Drag Bike 201 meter baru lalu. 
195 CC
Volumetrik sengaja atau tidak, itu yang dilacak brother mekanik balap yang menggunakan motor bakar, bukan karung. Membesarkan kapasitas diiringi korek ini dan itu, sama dengan mengisi volumetrik. Seperti pengorek FU Solo dipacu Dwi Batank (Abakura Ditra Jaya) yang melumat FU Kontroversi dan Jupiter Z Pele di Tegal, Jateng ini.
Juga kembali duuuk... menyepak keduanya di Pertamina Drag Bike Banjar Patroman, Jawa Barat, 1 – 2 Desember 2012. “Model yang saya pakai adalah overbore, untuk rpm. Bila Batank jokinya, dia bisa kontrol tenaga 31 dk saat di dyno,” kata Wawan Kristianto, tuner FU dari Solo, Jateng yang telah mencetak dua kali 7.5 detik atau lebih cepat dari FU Kontroversi yang 7.6 detik. Itu didapatnya di Demak, bulan lalu.  
Silinder diisi piston LHK 70 mm yang dipegang pin piston 15 mm. Diameter piston itu diikuti  sumur silinder yang aslinya 62 mm. Stroke atau langkah torak dinaikkan 2 mm  yang standarnya 48,8 mm. Dengan menghitung isi silinder, hasilnya 195 cc. Persis kelas yang diikutinya bebek tune-up s/d 200 cc. Masih kurang 5 cc sebenarnya.  
Tetapi bukan itu yang dihitung. Membengkaknya kapasitas, permintaan ruang bakar juga berubah. Seperti di atas tadi, FU lebih mudah karena ada empat lubang pada pale silindernya. Hitung, setiap lubang in misalnya diameternya mengikuti klep KLX250 yang dipakai. Andai klep KLX diameternya 25 mm, total lubang masuk FU Solo ini 50 mm.
Badingkan dengan SOHC (single over head camshaft), menggiring lubang masuk jadi 33 mm saja sangat riskan. Harus tambal sulam dengan las aluminium memermak sudut-sudut klep-nya. Salah dikit, kepala silindernya masih untung akan dibeli tukang loak. 
Dengan diameter lubang masuk 50 mm pelayanan kapasitas 195 cc akan bisa didekati. Itu yang kata orang efesiensi volumteriknya-nya mendekati 80%. Maksudnya, bahan bakar yang harus terbakar di ruang bakar seharusnya 156 cc. Angka ini 80% dari 195 cc. Ini pun kudu dilepas dengan bersih. Makanya, ini FU juga pakai dua klep KLX pada lubang buang. Untuk lebih jelasnya silakan lacak diameter klep KLX.
KARBU PWK 33
Jangan dikira 156 cc alias efesiensi 80 persen akan didapat dengan hanya menaikkan kapasitas dan mengorek semua lubang pernafasan. Belum, coy and boy dan amoy! Lho, brosist ke mana? Pengiriman bahan bakar juga baru bagian dari pelayanan volumetrik. “Saya pakai karburator PWK 33 mm. Ini sudah imbang dengan lubang-lubang pada head,” cocor Wawan yang tetap ‘dikit-dikit’ membelokkan data modifikasinya. Tidak apa-apa itu dapurnya.
Rahasia juga bisa. Tinggal kemampuan portal ini mengolahnya dan semoga bermanfaat buat sampeyan. Saat dapat  07.565 detik di Tegal, karbu ini disetting dengan main-jet 135 dan pilot-jet 48. Sengaja ini ditulis, agar yang disebut efesiensi volumetrik bisa didapat. Mana bisa tanpa setting akan bersih ruang bakarnya.  Sebenarnya saat lomba di Tegal, juga mengubah gigi rasio 4. Nah ini ada di BERITA TERKAIT.  
Belum lagi cerita kem. Soal angka-angka derajatnya lihat Data Modifikasi. Penentuannya bukan soal angka derajat terhadap kem. Tetapi menyamakan ukuran kedua kem wajib sama. Bila tidak, jokinya sembari balap tertawa sendiri dari balik helm, kecikikan. Begitu mau finish makin wakakak, saking gelinya akibat getaran yang berlebihan. Maklum manual teknologi dengan modal gerinda.  Weeeeeeng.... itu suara gerinda.
Inti volumetrik itu, “Mengubah bahan bakar jadi energi. Semakin bersih atau tuntas pembakarannya, itu yang kita kenal sebagai power.  Derajat kem, kompresi dan pengapian bagian untuk mendekati velumetrik. Vulometrik itu hanya ukuran cc, mm dan kg yang barhasil dibakar. Tapi sangat jarang yang dapat 80%, kecuali seperti di MotoGP yang material metalnya titanium dan komputerisasi semua,” timpal Om Gandhoel atau Sri Hartanto soal volumetrik. Mekanik senior itu yang bicara karena FU Solo ini pakai pengapian GRM, produknya dia.
Hahaha... promosi nih. Berarti FU belum 80 persen dong? Walah bisa lebih kencang lagi tuh. Ardel   
MODIFIKASI LAIN:
Data Modifikasi :

Data Modifikasi :   
Motor : Suzuki Satria FU 150 2004
Kelas : Bebek Tune Up s/d 200 cc
Pembalap : Dwi Batank
Kompresi  : 13,3 : 1
Volume head (buret) : 15,8 cc
Piston  : LHK 7.0 Dome 0,3
Timing pengapian  : 36°
LSA  : 105
Durasi Kem : 270° in, ex
Klep : KLX 250
Per klep : Jepang
Diameter in-let  : 32 mm (bulat)
Diameter out-let  : 30 mm (bulat)
Karbu : PWK 33
Manifold : Akal-akalan
Busi : NGK Platinum
Kruk as  : Standart
Pompa oli  : Standrat
Kopling  : Standart
Rasio  
gigi-1 : 14/31
Gigi-2 : 15/25
Gigi-3 : 19/24
Gigi-4 : STD
Gigi-5 : STD
CDI dan kurva-nya : Rextor GRM
Kenalpot  : MCC
Sokbreker depan  : Yamaha Mio
Sokbreker belakang  : YSS ninja KRR
Cakram depan : Standart
Rem belakang : Honda Karisma
Ban depan/belakang :  Depan FDR belakang IRC Eat My Dust
Pelek depan/belakang :  Exxel Takasogo 
Gir/sproket/rantai : SSS/14-35 



ManiakMotor – Di Pertamina Drag Bike minggu lalu Satria FU milik Kolor Ijo mencetal 7.366 detik. Itu rekor tercepat di Bebek 200 cc saat ini, mengalahkan catatan Honda Sonic from Thailand yang sebelumnya antara 7.377 sampai 7.38 sekian-sekian. Catatan itu pun bikin geleng kepala.
 Flash File http://maniakmotor.com/images/IklanYamaha/yamahavixion.swf is not found
Sekarang tambah lagi gelengnya. FU Kolor Ijo kembali mempertajam catatan waktu menjadi 7.260 detik di lintasan Pemda Wonosari, Gunung Kidul, Jogja, pada 23 Juni 2013. Sayang, lombanya tidak dihadiri maniakmotor.com. Portal ini hanya liputan drag bike di Banjarnegara, Jateng dan Sentul, Bogor. Catatan tersebut didapat FU saat final.
Lagian bukan FU yang di Pertamina Drag Bike yang mencetak angka itu, tetapi racikan baru dari Kolor Ijo. Jokinya lagi-lagi legenda trek lurus alias Eko Chodox. Chodox dari Semarang yang juga pertama kali yang geber Sonic from Thailand itu, berhasil dengan taktik loncat duluan di garis start. Rpm-nya dibikin tinggi sesuai karakter FU Kolor Ijo yang baru ini.
Raditya, Manajer tim K-Ijo Top  Jaya Yonk Jaya AHRS GM, sebelumnya menyatakan bersyukur dengan hadirnya Sonic Thailand. Itu memacu tim lokal untuk meriset ulang pacuan trek lurus di Bebek 200 cc. “Kami mengkaji ulang soal kem, komposisi bore dan stroke, sampai kompresi. Tentu saja konsultasi dengan para mekanik yang mahir 4-tak,” jelas Raditya.
FU Kolor Ijo pun segera ubah metode mesin. Mereka mengembalikan langkag torak menjadi standar (48.8 mm). Sedang bore dibikin selebar-lebarnya dengan piston high speed 72 mm, total kapasitas jadi 198 cc. Tetapi dengan trik ini, rpm justru lebih tinggi. Hanya pintar-pintar joki menahan rpm-nya sejak start. Berhasil....
Selengkapnya tunggu hasil sebenarnya yang akan dikirim panitia balapan. Adit
BACA JUGA



Polisi Hentikan 'Wotu Drag Bike 2013' karena 2 Pebalap Tewas

Senin, 28 Oktober 2013 00:37 WIB
Polisi Hentikan 'Wotu Drag Bike 2013' karena 2 Pebalap Tewas
TRIBUN BATAM /Argianto DA Nugroho
Ilustrasi drag race 
TRIBUNNEWS.COM, WOTU - Perlombaan "Wotu Drag Bike 2013",  di Sirkuit Dr Ratulangi, Wotu, Luwu Timur, Minggu (27/10/2013), terpaksa dihentikan secara mendadak.
Itu menyusul insiden tabrakan dua pebalap lintasan pendek (dragger) muda kecamatan itu. Dua pebalap muda itu, Acho Kiwil (19), pebalap asal Kecamatan Wotu, dan Edhy Towuti (20), asal Kecamatan Towuti.
Akibatnya, kedua tewas setelah saling tabrakan di luar lintasan 201 meter. "Berdasarkan arahan pak kapolda, lomba terpaksa saya hentikan dan tidak dilanjutkan," kata Kapolres Luwu Timur Ajun Komisaris Besar Rio Indra Lesmana, kepada wartawan di Malili.
Insiden ini terjadi sekitar 30 menit sebelum flag start (bendera start) diangkat oleh perwakilan IMI Luwu Timur dan pihak Hatta Center, salah satu penyelenggara event tahunan ini.
Ketua Bidang Olah Raga Roda Dua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sulsel, Multazam I, ikut berbelasungkawa atas insiden ini.
Namun, pihaknya mengelak disebut sebagai pihak yang bertanggungjawab atas kecelakaan itu. Menurutnya, insiden maut itu diketegorikan kecelakaan lalu lintas. "Kejadiannya di Jalan Raya Dr Ratulangi, bukan di sirkuit balap," katanya kepada Tribun, Minggu (27/10/2013) malam.
Ketua Harian Pengurus Ikatan Motor Indonesia (IMI) Provinsi Sulsel, Hudli Huduri membenarkan hal tersebut. "Kecelakaan terjadi di luar sirkuit balap," ungkapnya.
Saat kejadian, Ketua Pengprov IMI Sulsel Subhan Aksa sedang menyelesaikan etape terakhir seri Rally FIA WRC-2 di Spanyol.
Ini berbeda dengan malapetaka drag race yang terjadi di Sirkuit Jl Ahmad Yani dan Jl Lanto Dg Pasewang, Maros, Minggu (9/7/2006), delapan tahun lalu. Saat itu, dua car drager yang bersenggolan di lintasan 180 m, menabrak penonton yang menyebabkan delapan pentonon tewas dan 15 lainnya luka. (sud/cr7/cr9/rip)
Editor: Reza Gunadha
Sumber: Tribun Timur

Selasa, 04 Maret 2014

Minggu, 16 Februari 2014 14:29 WIB
Balap Nasional

Drag Bike Tegal, Contoh Penyelenggaraan Event Drag Dengan Manajemen Waktu Bagus


Penulis : Jack
Foto : Jack


Regulasi baru balapan lurus untuk tahun ini mulai diterapkan di gelaran King Of Battle Competition Mizzle Hydra Dragbike (KBCMHD) 2014. KBCMHD yang berlangsung di jalan lingkar utara kota Tegal, Minggu lalu (9/2). Aturan ini menyangkut jumlah kelas yang dilombakan dan maksimal pembalap menggunakan motor dalam satu kelas.
Aplikasi regulasi baru membuat gelaran yang digawangi So-Tech Sport Club (SSC) dengan jumlah starter sampai 500-an bisa selesai tepat waktu. Ini jadi catatan. Dengan manajemen waktu yang baik, drag bike bisa teratur dan selesai tepat waktu.
Yang jadi kunci utama, regulasi pembatasan jumlah kelas. “Seperti ini seharusnya pelaksanaan drag bike. Jangan sampai molor sampai malam hari karena akan banyak pihak yang dirugikan,” beber Eko Sulistyo, joki balapan lurus nasional asal Semarang.
Dengan penyelenggaraan selesai batas waktu, secara enggak langsung memperhatikan hak pengguna jalan. Kan, balapan lurus sering menggunakan trek jalan raya. Kalau selesai sampai malam hari karena molor, akan mengganggu kenyamanan warga sekitar.
Mengenai jumlah pembalap yang diizinkan pakai satu motor dalam satu kelas, Eko berpendapat lain. “Tiga pembalap yang bisa join untuk satu motor masih terlalu banyak. Paling pas maksimal dua pembalap,”tambahnya.
Pertimbangan Eko jika motor yang dipakai lebih dari dua pembalap papan atas memungkinkan juaranya hanya akan itu-itu saa. Efeknya enggak adil karena enggak memberikan kesempatan kepada joki lain.
Tambahan lagi, sudah seharusnya diatur juga pengelompokan joki berdasarkan pengalaman dan prestasi. “Pembalap kita rata-rata masih pemula. Masih butuh jam terbang dan kemenangan untuk menaikkan kepercayaan dirinya,” beber Koko, juru korek Harlan Motor, Salatiga.
Jika dragster pemula langsung bersaing dengan para senior ditakutkan nantinya mental mereka akan kalah dahulu sebelum bertanding.
“Setidaknya ini sudah jadi kemajuan. Kita akan selalu berusaha untuk memperbaiki penyelenggaraannya,”tutup Rifki “Toyip” Arifianto, penyelenggara KBCMHD dari SSC.
Minggu, 02 Februari 2014 15:51 WIB
Drag Bike

Drag Bike Mojoagung, Kelas Lokal Wajib Dibuka Untuk Penjenjangan


Penulis : Candra
Foto : Candra

Kelas lokal di balapan lurus jadi tempatnya joki balapan liar berkumpul. Tapi, saat turun di balapan resmi pebali wajib ikut aturan. Inilah yang ada di seri I JAC Drag Bike Championship (JDBC) 2014 yang berlangsung di jalan by pass Mojoagung, Jawa Timur, Minggu lalu (26/1).
Faktanya total dari 451 starter di JDBC diisi 116 starter dragster lokal asal Jombang dan sekitarnya berasal dari joki balapan lurus.
“Memang, kelas lokal ditargetkan untuk menampung pembalap lokal dan untuk mengurangi balap liar di jalanan. Juga, mungkin saja akan lahir lokal hero yang asalnya dari joki balap liar di tiap daerah,” bilang M. Taufik, Pimpinan Lomba JDBC.
Kelas lokal disambut senang Soni Hadi Wijaya, joki asal Jombang. “Harapan bisa naik podium sangat besar di kelas lokal. Kalau sudah sering juara di kelas lokal baru bisa main di kelas bergengsi,” cerita pembalap tim dragster Tebu Manis AE yang sudah fokus di balap .
Memang, kelas lokal diposisikan sebagai kelas pendukung. Tapi, untuk menuju kelas non lokal tiap pembalap wajib ikut di kelas lokal untuk mengasah skill.
“Adanya kelas lokal bisa menambah jam terbang. Jika prestasi kita di kelas lokal sudah bagus bisa dipakai untuk menawarkan diri ke tim besar,” tambah Muhammad Ubet, dragster Jombang yang resmi ikut tim Ramajaya Sidoarjo.
Selain itu, kelas lokal jadi ajang pembibitan pembalap. Artinya, balapan di manapun sebagusnya membuka kelas ini.
“Jawa timur banyak pembalap muda. Kalau nggak ada kelas lokal, kita nggak bakal tahu joki daerah mana yang punya skill bagus,” jelas Yoga Sogol, dragster gacoan tim P5Boer Bowni asal Jombang.